Sabtu, 12 Mei 2012

CERPEN | Harapan











HARAPAN


Oleh Ati Herawati



*********



          Sejak peritiwa ta’aruf dua hari yang lalu. Saat itu, mbak Maya guru ngajiku berpesan,
“Tih, kalau sudah seaqidah dan sefikrah, yang lainnya tinggal mengikuti.  Apalagi, sekarang akhwat lebih banyak daripada ikhwan. Jangan sampai kamu menolak rizqi. Dia ikhwan lho!” Mengingat itu semua, aku kembali menghela nafas.


           “Apakah ikhlas selalu bermakna menafikan pertimbangan manusiawi.?” Pertanyaan itu kembali bersemayam di kepalaku. Berputar, melibas, mengurangi, tanpa menemukan jawaban. Hingga akhirnya, pertanyaan itulah yang ingin aku mintakan jawaban pada Yanti, teman sekamarku.

 Keheningan malam dan kebekuannya yang memenjarakan dinding kamar sempit kami menjadi saksi. “Secara umum, aku kira jawabanya adalah YA,” jawab Yanti. “Karena Ikhlas bisa bermakna menerima apa yang diberikan Allah dengan lapang dada.”
 “Tapi itu tak berarti guru ngaji berhak menodong  khan.?….” “Tentu saja tidak. Anti berhak menyampaikan harapan-harapan, keinginan dan sebagainya.



                                                                    * * *


          “Apakah jika dia berpredikat ‘ikhwan’ dan ngaji, semuanya sudah cukup.! Di mana diletakkan kecocockan visi, pemikiran, orientasi, dan karakter.? Sekarang ini jumlah ikhwan akhwat melimpah. Lantas atas dasar apa, seorang ikhwan dijodohkan dengan seorang akhwat.?” desaku.


“Bukankah anti bisa bertanya, minta informasi yang lebih lengkap.?” Yanti menyarankan dengan sabar. “Sudah…!” Lantas aku serasa mendapat tempat utuk mengurangi beban yang beberapa hari ini kusandang. Sepekan yang lalu mendadak Mbak maya memberikan biodata seorang ikhwan. usiaku memang sudah sangat cukup untuk menikah. Dua puluh lima tahun. Aku terkejut ketika itu, tapi aku hanya sanggup untuk mengiakan.

Tiga hari kemudian aku dihadapkan dengan ‘laki-laki tak di kenal’ dalam biodata itu di rumah mbak maya, aku sangat berharap laki-laki itu seperti yang kuimpikan. Seperti…., Ah! Sudahlah, ternyata aku harus kecewa. “Suatu saat, jika ada yang berniat menikahiku, aku ingin itu karena dia melihat sesuatu yang istimewa dalam diriku. Bukan seorang yang hanya berniat menikah, dan menyerahkan kepada guru ngajinya dijodohkan dengan siapapun. Apakah aku salah?”


            “Tidak.! Hak kamu untuk punya keinginan seperti itu. Betapapun, kamu yang akan menjalani. Maka keputusan itu harus keputusanmu, bukan keputusan guru ngaji“Aku ingin dia bisa menerimaku dengan segala kondisiku, bahkan mendukung cita-citaku. Bahwa aku bukan tipe orang yang bisa diam di rumah. Bahwa aku ingin kuliah lagi, aku ingin mengajar, aku ingin aktif bergabung dengan lembaga-lembaga sosial.

” Aku menerawang keluar jendela kamar yang terbuka. Beberapa kerlip bintang tertangkah oleh mataku. “Tapi dia ingin aku di rumah saja. Dia ingin aku tidak bekerja di luar jika sudah punya anak”. “Kalau begitu, kamu tolak saja.” “Aku tak berani!” Yanti menatapku lama. “Tampaknya, ada permasalah lain yang jadi ganjalanmu, tih! Bukan bagaimana dia. Istikharahlah Ukhti agar Allah saja yang menunjukkan jalan itu untukmu,

“Yanti menepuk pundakku dan meninggalkanku yang masih menatapi langit. Bulan di langit mulai tertutup awan. ’Permasalahan lain!’. Ya, Permasalahan lain. Barangkali memang benar inilah masalahku yang sebenarnya. Kata-kata Yanti itu kurasakan dalam membekas. Kata-kata itu pula yang menghadirkan nama pada galau hati yang selama ini tak kumengerti apa. Galau yang telah delapan bulan ini mengisi jiwa dan menenggelamkanku pada rasa gelisah, cemas, harapan serta penantian. Juga pada mimpi. Mimpiku tentang seorang lelaki shalih, yang pernah melamarku delapan bulan yang lalu. Mas Alvin. Lelaki shalih kakak kelasku di SMA dulu. Laki-laki yang aku tahu pasti akan mendukung cita-cintaku. Laki-laki idaman. Cerdas, alim dan bersahaja.

 Namun sayang, proses kami tidak berjalan lancar, karena aku masih kuliah Ekstensi di Jakarta. Masih dua tahun lagi, dan aku tak bisa menginggalkannya karena orangtuaku keras tidak mengijinkanku. Sementara, Mas Alvin juga tak bisa pindah ke Jakarta, karena beliau memegang posisi kunci di usaha media yang baru dirintisnya.

Aku tahu itu dan sangat sadar. Aku rela serela-relanya kalau mas Alvin mundur atas alasan ini. Bahkan dulu, delapan bulan yang lalu itu, aku yang mengajurkan beliau untuk mencari muslimah lain saja. Namun, jawaban Mas Alvin sangat di luar dugaanku ‘Let it be my problem! Not Yours’. Jawaban yang mengantung. Akhirnya aku memilih untuk menunggu saja. Sementara itu, mbak  Maya, yang sudah ku anggap pengganti orangtuaku di Jakarta menganggap semuanya sudah berakhir, karena Mas Alvin tak pernah berkabar lagi tentang lamarannya.

Namun tidak demikian bagiku. Masih sangat nyata dalam benakku, masih kusimpan dengan rapi surat berisi kalimat terakhir Mas Alvin, ‘Let it be my problem. Not Yours’ Meskipun beliau sangat jarang dan hampir tidak pernah menghubungiku, tapi kenyataan bahwa beliau sampai saat ini belum menikah makin memperkuat harapanku *** Masih Juni, bulan tak lagi bulat penuh. Dua hari lagi aku harus memberikan jawaban.



                                                                       * * *



"Dan aku masih juga diliputi keraguan. bayang-bayang Mas Alvin bukannya makin tipis, tapi malah makin lekat di benakku. Hari ini, sudah berulangkali aku meraih gagang telpon dan memencet nomor HP mas Alvin. Aku ingin bertanya tentang komitmennya.

Tapi selalu saja pada angka terakhir gagang telpon itu aku letakkan kembali. Aku tak sanggup. Aku malu. Jiwa perempuanku,  menahan hasratku itu. ‘Perempuan tak layak untuk memulai, dia semestinya menunggu’ begitu pelajaran dari nenekku.
“ tapi aku harus bagaimana.? Aku masih berharap-harap cemas. Aku bingung statusku dalam lamaran atau tidak. Istikharahku tak menghasilkan apa-apa. Bahkan resah di jiwa itu kian mendera.

*** Awal Juli 2012 Hari ini adalah hari terakhir harus memberi keputusan. Dan aku masih juga tenggelam dalam balau ku. Duhai Rabbi, kenapa aku jadi lembek begini.? “Saya tak bisa menerimanya Mbak, sya belum siap” Jawaban itulah yang akhirnya ku berikan. Nampak benar wajah Mbak maya menyemburatkan kekecewaan.

Tapi apa dayaku.? Aku tak sanggup mendua jiwa. Bagiamana mungkin aku bisa mengiyakan, sementara hati ku masih terpaut pada seseorang lain yang masih saja ‘nakal’ bermain-main dalam ruang hatiku. Aku bisa membayangkan, tentu ini akan sangat menyakiti hai ikhwan pilihan Mbak  Maya itu.

Mana ada laki-laki yang rela istrinya mendua hati.? aku tak tega melukainya. Aku… aku lebih memilih menunggu mas Alvin. Ya! Menunggu mungkin lebih baik. Harapanku, suatu saat nanti, ketika takdir telah menyatakan bahwa mas Alvin memang bukan jodohku. Atau ketika aku telah sanggup melupakan Mas Alvin. Ini yang berat !.






                                                                 _ TAMAT _